Question -Part I-
Saat itu masih sangat pagi, tepat pukul 06.17. Matahari mulai menghangatkan bumi dan bersiap menyinari kehidupan hari ini. Tapi matahari pagi itu tidak terasa hangat bagiku. Aku masih merasa dingin, sangat kedinginan. Sampai tak mempu membuka lembaran-lembaran kain yang menutupi seluruh tubuhku ini. Mengarahkan tenaga untuk membuka mata saja aku tak mampu. Mataku masih sangat perih. Dan sepertinya mataku bengkak. Kepalaku masih sangat berat. Sungguh sakit. Dadaku pun masih sesak. Masih terasa sakit. Sakit sekali. Apa yang aku lakukan sekarang? Aku membohongi diriku sendiri? Ah, bodoh. Sungguh bodoh. Apa aku menyesal sekarang? Melepasmu adalah hal tersulit. Namun, aku tidak bisa begitu saja membiarkannya hidup dalam kebohongan mengenai rasaku. Tapi aku merasa kehilangan. Sungguh kehilangan. Aku hanya ingin melihatnya bahagia dengan mencintai wanita yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Tanpa ada laki-laki lain yang mengisi hati wanita itu. Aku sungguh tidak pernah pantas untuknya. Aku harus benar-benar mengakhirinya. Dia memang indah, namun bukan dia yang aku inginkan. Mungkin yang membuatku merasa sakit adalah aku takut kehilangaan dia. Kehilangan segalanya mengenainya. Kehilangan seseorang yang selalu mengisi ruang indah dalam memoriku namun aku tak pernah menghargainya. Aku bodoh. Aku salah. Aku tak pernah bisa merasakan cintanya. Aku hanya bisa merasakan kebahagiaan yang dia percikkan di kehidupanku. Maafkan aku. Jika saja dia lebih dulu bertemu denganku daripada laki-laki bodoh yang aku cintai, pastinya aku tidak akan pernah berani melepasnya. Aku akan selalu menjaganya .
Pada akhinya aku memaksakan diriku untuk bangun dan memulai hari. Namun, aku sadar akan tidak ada lagi kamu dengan ledekan jahilmu, tidak ada lagi dia yang memperhatikanku. Tidak ada lagi dia yang bertingkah bodoh untuk mencuri perhatianku. Akan tidak ada lagi percakapan tidak penting yang selalu kita bicarakan. Akan tidak ada lagi yang saling mengharapkan.
Sejak hari itu setiap pagi, setiap kali aku bangun dari tidurku, entah mengapa akan selalu muncul wajahnya dengan tingkah-tingkah anehnya di pikiranku. Apa aku mulai merindukannya dan kehilangannya? Jawabannya mungkin IYA.
Continue...
Komentar
Posting Komentar