Tak ada artinya.
Munafik. Itulah kata yang tepat untukku. Sejak dahulu, aku sudah menyangka. Aku akan kehilangan sosokmu. Kehilangan orang yang menghargai keberadaanku. Kehilangan orang yang tak pernah mengabaikanku. Aku kehilanganmu. Kamu. Pemicu detak jantungku.
Aku baru saja sadar betapa bodohnya aku menunggu orang yang bahkan tidak pernah sedikitpun menyadari keberadaanku di belakangnya selama ini. Menunggu bertahun-tahun namun dia terus berlari tanpa pernah kembali lagi. Bahkan menolehkan kepalanya hanya untuk melihat manusia bodoh yang sedang menunggunya saja tidak. Semakin hari, semakin jauh. Dia terus berlari. Sedangkan aku diam, menunggu. Aku menunggu dalam diam dan semua sia-sia.
Tidak, aku tidak bodoh. Aku hanya terlalu percaya pada harapan. Aku dibohongi oleh harapan. Sejak awal, aku sudah salah berharap. Sejak awal, harusnya aku tahu bahwa itu hanya mimpi. Mimpi hanya ada di dunia khayal. Tak pernah ada di dunia nyata. Bersama dengannya hanyalah khayalku saja.
Cinta yang ku tunggu tak pernah datang. Namun ada cinta yang membukakan celahnya lebar-lebar agar aku bisa masuk ke dalamnya. Tapi, dengan mudahnya kututup celah itu. Tanpa pernah menyadari kalau celah itulah yang mungkin membawaku pada sebuah kebahagiaan yang tak terhingga.
Tak ada artinya. Sudah tak ada artinya lagi.
Aku baru saja sadar betapa bodohnya aku menunggu orang yang bahkan tidak pernah sedikitpun menyadari keberadaanku di belakangnya selama ini. Menunggu bertahun-tahun namun dia terus berlari tanpa pernah kembali lagi. Bahkan menolehkan kepalanya hanya untuk melihat manusia bodoh yang sedang menunggunya saja tidak. Semakin hari, semakin jauh. Dia terus berlari. Sedangkan aku diam, menunggu. Aku menunggu dalam diam dan semua sia-sia.
Tidak, aku tidak bodoh. Aku hanya terlalu percaya pada harapan. Aku dibohongi oleh harapan. Sejak awal, aku sudah salah berharap. Sejak awal, harusnya aku tahu bahwa itu hanya mimpi. Mimpi hanya ada di dunia khayal. Tak pernah ada di dunia nyata. Bersama dengannya hanyalah khayalku saja.
Cinta yang ku tunggu tak pernah datang. Namun ada cinta yang membukakan celahnya lebar-lebar agar aku bisa masuk ke dalamnya. Tapi, dengan mudahnya kututup celah itu. Tanpa pernah menyadari kalau celah itulah yang mungkin membawaku pada sebuah kebahagiaan yang tak terhingga.
Tak ada artinya. Sudah tak ada artinya lagi.
Komentar
Posting Komentar